Tampilkan postingan dengan label Basa-Basi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Basa-Basi. Tampilkan semua postingan

Calon Istri Idaman Ala Agus

Sekitar seminggu yang lalu temanku ada yang bilang gini nih : “Jangan cari wanita yang bisa diajak susah, tapi carilah wanita yang bisa mengangkat dari kesusahan.” Katanya sih dapet tuh kata-kata bijak dari status fb temennya. Waktu denger tuh filsafat (ceileh), spontan aku langsung ngakak abis-abisan. Kenapa ngakak ?

Mereka Sibuk Berburu Lowongan Kerja

Beberapa hari belakangan ini teman-teman pada sibuk ngelamar kerja. Rame-rame tapi sembunyi-sembunyi. Rame-rame ikutan ngelamar di satu tempat yang sama tapi sembunyi-sembunyi supaya ga’ ketauan ngelamar satu sama yang lin. Tradisi kaya’ gini dah terjadi dari jaman dulu waktu aku masih nempuh kuliah D-3, tiap kali ada info lowongan kerja terbaru pasti pada sembunyi-sembunyi biarpun ma temen dekat sekalipun, alasannya? yang pasti supaya informasi tersebut cuma segelintir orang aja yang tau, jadi kalo kaya’ gitu khan yang ngelamarpun jadi ikutan sedikit dan itu artinya sainganpun jadi sedikit pula, akhirnya kemungkinan untuk diterimapun semakin terbuka lebar.Ntah siapa yang bikin tradisi kaya’ gini, aku benar-benar ga’ pernah ngelaku’in hal-hal lucu seperti itu. Sory-sory aja nih buat yang sering ngelaku’in itu.Aku sendiri merupakan tipe orang yang pengen selalu beda. Paling males kalo ikut-ikutan, jadi biarpun aku tau kalo sekarang ada banyak lowongan-lowongan kerja yang menarik+bonafit, yang aku laku’in justru cuma ngasih info tersebut ke teman-teman yang lain supaya mereka pada ikutan, sementara aku sendiri? Ga’ minat tuh. Bukannya sombong ato merasa udah yang paling sukses, tapi rasanya sayang banget kalo rambut yang udah semakin gondrong ini dipotong cuma gara-gara “ngelamar kerja” yang belum karuan tuh lolos ato nggaknya. Terserah kalo mau nyebut aku pesimis ato ga’ percaya ma diri sendiri, aku cuma males potong rambut.Tertawa terbahak-bahak

Tidur Cepat, Bangun Cepat

Akhir-akhir ini, rutinitas ga’ seperti biasanya, kalo biasanya aku lebih sering bangun tidur telat, kadang siang tapi ga’ jarang juga bangun sore atau malam, jam tidur ga’ karu-karuan, biasanya tidurku bisa lebih dari 10 jam. Masalah baru muncul waktu malam atau dini hari, aku ga’ pernah bisa tidur, menurutku sih kebiasaanku ini bukan insomnia atau penyakit gangguan tidur lainnya tapi karena sistem kebiasaan tubuhku yang udah ke-setting “tidur di pagi hari-terjaga di malam hari”. Tapi teman-temanku lebih senang menyebutku “ga’ waras” atau “cuma kebiasaan orang malas”.

Lha kali ini, udah 4 hari aku bisa bangun agak pagi (tapi gak pagi-pagi amat sih), terus malamnya bisa ngerasa ngantuuuuk banget. Cukup rebahkan bandan di kasur tiba-tiba dah tidur sendiri, ga’ seperti biasanya yang kudu diawalin dengan ngelamun atau ngitung kodok lompat pagar.Senyum dengan mulut terbuka

Mungkin bagi sebagian orang kebiasaan seperti ini udah biasa, tapi bagiku yang malesnya minta’ ampun ini, bisa seperti ini udah merupakan kemajuan.Tertawa terbahak-bahak

Jadi teringat ma filmnya BO BO HO, kalo ga’ salah dulu waktu BO BO HO lagi latihan di shaolin terus ada yang bilang : “Tidur cepat, bangun cepat”

Calon Pegawai Negeri Sipil Entahlah

Seorang teman pernah berkata : “Lebih baik aku jadi gelandangan daripada harus jadi PNS !!”
Aku cuma senyum.
Dari dulu aku benar-benar ga’ pernah berpikir apalagi bercita-cita untuk ikut-ikutan hal-hal yang berbau CPNS. Seperti yang udah kubilang pada artikel sebelumnya, aku hampir tidak punya cita-cita dalam hidupku. Kuliah dan hidup di tanah perantauan yang tidak terlalu meng-agung-agungkan CPNS seperti di kota Solo pun membuatku memiliki pergeseran persepsi dibandingkan kampung halamanku yang sangat memuja yang namanya CPNS.

Belajar Menerima Agar Mendapatkan Lebih

Dari kecil, hingga duduk di bangku SMA, saya benar-benar tidak memahami makna dari kata bersyukur. Pemahaman dari kata “bersyukur” barulah saya dapatkan setelah dua tahun masa perkuliahan. Tidak ada peristiwa yang terlalu istimewa di kala itu,namun tidak ada pula peristiwa yang sia-sia di kala itu. Saya mulai dapat memahaminya karena merupakan buah dari pertumbuhan tingkat kedewasaan yang terus berkembang. Sebelum saya benar-benar mengerti makna dibalik kata “bersyukur” rasanya hampir setiap hari yang saya habiskan hanyalah terus mengeluh, memaki diri sendiri, menghujat keadaan, tidak menerima semuanya.Sekarang ketika saya mulai sedikit memahaminya, yang bisa saya lakukan hanyalah menyesali kenapa saya terlambat memahaminya dan mencoba untuk memperbaikinya.

Saya memaknai kata bersyukur hampir sama dengan “menerima” dan “berterima kasih”. “Menerima” semua yang telah saya miliki, semua yang telah saya lakukan, dan semua pencapaian yang telah berhasil saya buat. “Berterima kasih” pada Tuhan, karena masih memberi saya kesempatan untuk bisa “menerima” dan untuk segalanya.

Susahnya Menjadi Pendiam

Bersyukurlah kalian yang ditakdirkan memiliki intonasi suara yang pelan, tidak keras sepertiku yang kalau bicara bisa membuat pak RT keluar rumah dan menyambangiku karena mengganggu tidur siangnya. Biarpun suaraku masih kalah dengan orang suku Batak yang konon katanya memiliki intonasi suara yang dahsyat tapi tetap saja aku merasa intonasiku membuatku kurang nyaman. Bukan berarti aku tidak mensyukuri apa yang diberikan Tuhan padaku, tapi mengeluh pada kekuranganku dan bermaksud untuk melakukan perubahan pada intonasi suaraku menjadi sedikit lebih rendah mungkin tidak akan membuat Tuhan marah khan.

Antara Teman dan Musuh

Aku bukanlah orang yang memiliki banyak teman namun sedikitnya teman justru bisa membuatku meluangkan lebih banyak waktu yang berkualitas dengan teman-temanku. Aku juga bukan tipe orang yang suka mencari-cari masalah apalagi kalo sampai punya musuh. Kebanyakan temanku selalu memiliki pola pikir yang tidak sejalan denganku, wajar sih karena tiap orang orang memiliki karakter dan pemikiran yang berbeda-beda, namun dulu aku sangat sering mengkotak-kotakkan beberapa individu yang menurutku pantas kujadikan teman dan yang kurang pantas

Antara Teman dan Sahabat

Entah bagaimana dengan anda, namun dari dulu hingga sekarang saya selalu menemukan fakta bahwa kebanyakan orang yang saya kenal menganggap dua kata yaitu : “Teman” dan “Sahabat” memiliki pengertian yang berbeda. Mereka mengatakan bahwa “Sahabat” bisa dibilang memiliki porsi yang lebih tinggi dari hanya sekedar “Teman”. Semua orang yang dikenal bisa disebut teman namun tidak semuanya bisa disebut sebagai sahabat. Ada juga yang mengatakan bahwa pengertian dari “sahabat” adalah teman dekat yang telah mengerti betul dan dimengerti betul oleh orang yang menyebutnya sahabat.

Hidup Tanpa Cita-Cita

Mari flashback dikit ke masa laluku waktu masih SMP sampe SMA, gak pernah terpikir sedikitpun untuk menjadi PNS. Aku gak punya cita-cita. Satu-satunya cita-cita waktu SD cuma menjadi Dokter Spesialis penyakit dalam atau saraf atau apalah pokoknya yang berhubungan dengan organ tubuh bagian dalam. Tapi itu SD. Mari flashback dikit ke masa laluku waktu masih SMP sampe SMA, gak pernah terpikir sedikitpun untuk menjadi PNS. Aku gak punya cita-cita. Satu-satunya cita-cita waktu SD cuma menjadi